Thursday, March 15, 2012

Penerapan Teori Belajar Dienes (Pend. Mat 3)

PENERAPAN TEORI BELAJAR DIENES

A.    Perkembangan Intelektual Anak dalam Belajar
1.      Hukum Kekekalan Bilangan
Banyaknya suatu benda akan tetap meskipun letaknya berbeda-beda atau diubah letaknya.  Hukum kekekalan bilangan biasanya dipahami anak pada usia 6-7 tahun.
                               
 2.      Hukum Kekekalan Materi
Materi atau zat akan tetap sama banyaknya meskipun diubah bentuknya atau dipindah tempatnya. Anak memahami hukum kekekalan materi pada usia 7-8 tahun.
                
3.      Hukum Kekekalan Panjang
Panjang tali akan tetap meskipun tali itu dilengkungkan. Hukum kekekalan panjang dipahami anak pada usia sekitar 8-9 tahun.
4.      Hukum Kekekalan Luas
Hukum kekekalan luas dipahami anak bersamaan dengan hukum kekekalan panjang, pada usia sekitar 8-9 tahun. Luas daerah yang ditutupi suatu benda akan tetap sama meskipun letak bendanya diubah.
 5.      Hukum Kekekalan Berat
Berat suatu benda akan tetap meskipun bentuk,tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memehami hukum kekekalan berat pada usia 9-10 tahun.
 6.      Hukum Kekekalan Isi
Jika pada suatu bejana yang penuh dengan air dimasukkan suatu benda, maka air yang ditumpahkan dari bejana tersebut sama dengan isi benda yang dimasukkan. Anak memahami hukum kekekalan isi pada usia 14-15 tahun.



A.    Permainan Interaktif Untuk Belajar Matematika
Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang dikemas dalam pembelajaran sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam belajar.
1.      Bermain untuk belajar bilangan
Bermain untuk belajar bilangan sesuai untuk belajar konsep operasi bilangan cacah.
a.       Alat Permaianan
·      Kartu gambar
·      Kartu bilangan
·      Kartu relasi bilangan
b.      Contoh
     
2.      Permainan operasi hitung
a.       Permainan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
Permainan ini dilakukan dengan alat “rantai manik”
b.      Permainan operasi hitung perkalian
Permainan ini dilakukan dengan alat “batu perkalian”
c.       Permainan operasi hitung pembagian
Permainan ini dilakukan dengan alat “batu pembagian”
3.      Permainan dakon bilangan
Permainan ini dapat membantu anak belajar konsep bilangan prima, menentukan faktor atau kelipatan, serta mencari FPB dan KPK.
                   
 4.      Permaianan tangram (pancangram)
                                

Teori Belajar Zoltan P. Dienes (Pend. Mat 3)

TEORI BELAJAR DIENES

Zoltan P. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa-siswa. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget, dan pengembangannya diorientasikan pada siswa-siswa, sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya.
Dienes (dalam Ruseffendi, 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur. Seperti halnya dengan Bruner, Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Ini mengandung arti bahwa jika benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.
Perkembangan konsep matematika menurut Dienes (dalam Resnick, 1981) dapat dicapai melalui pola berkelanjutan, yang setiap seri dalam rangkaian kegiatan belajar dari kongkret ke simbolik. Tahap belajar adalah interaksi yang direncanakan antara yang satu segmen struktur pengetahuan dan belajar aktif, yang dilakukan melalui media matematika yang disain secara khusus. Menurut Dienes, permainan matematika sangat penting sebab operasi matematika dalam permainan tersebut menunjukkan aturan secara kongkret dan lebih membimbing dan menajamkan pengertian matematika pada anak didik. Dapat dikatakan bahwa objek-objek kongkret dalam bentuk permainan mempunyai peranan sangat penting dalam pembelajaran matematika jika dimanipulasi dengan baik. Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1992:125-127), konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi tahap, yaitu:

1.   Permainan Bebas (Free Play)
Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Selama permainan pengetahuan anak muncul. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Misalnya dengan diberi permainan block logic, anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna, tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi.
2.   Permainan yang Menggunakan Aturan (Games)
Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. Jelaslah, dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu, akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa, karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu.
Contoh dengan permainan block logic, anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis, atau yang berwarna merah, kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga, atau yang tebal, dan sebagainya. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis, atau yang merah, timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah, serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal), atau tidak merah (biru), hijau, kuning).

3. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities)
Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini, guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic, anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal, anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok).

4. Permainan Representasi (Representation)
Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak, Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini (gambar 2).

          Segitiga        Segiempat           Segilima            Segienam       Segi dua puluh tiga
       0 diagonal      2 diagonal         5 diagonal            ... diagonal      berapa diagonal
Gambar 1. Gambar diagonal suatu poligon

5. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization)
Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Sebagai contoh, dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut, kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak.

6.   Permainan dengan Formalisasi (Formalization)
Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut, sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma, harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Contohnya, anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma, harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma, dalam arti membuktikan teorema tersebut. Karso (1999:1.20) menyatakan, pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif, tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup, komutatif, asosiatif, adanya elemen identitas, mempunyai elemen invers, membentuk sebuah sistem matematika.


Masalah SAINS (Pend. IPA Fisika)

Mata pelajaran SAINS, bukan merupakan mata pelajaran yang hanya diajarkan dengan metode ceramah di dalam kelas, melainkan harus dilakukan dengan praktek atau observasi di dalam atau di luar kelas. Namun dewasa ini, masih banyak guru yang hanya mengajarkan SAINS dengan metode ceramah. Muncul permasalahan akibat metode pengajaran dengan cara seperti ini (ceramah), para siswa cenderung akan menjadi bosan sehingga minat siswa terhadap SAINS pun akan menurun.
Permasalahan utama yang dihadapi oleh sebagian besar guru adalah ketidaktersediaanya fasilitas untuk menunjang kegiatan belajar mengajar mata pelajaran SAINS, seperti kit IPA dan lingkungan di sekitar sekolah yang mendukung pengajaran SAINS. Kit IPA merupakan hal yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah sebagai sarana pembelajaran SAINS karena dalam SAINS perlu dilakukan praktek-praktek untuk membantu siswa dalam mengingat dan memahami materi yang diajarkan. Lingkungan sekolah juga mendukung tercapainya tujuan dalam pembelajaran SAINS, jika lingkungan di sekitar sekolah masih bisa menjadi sumber belajar maka siswa akan lebih mudah memahami SAINS. Selain fasilitas pendukung seperti dua hal di atas, guru juga merupakan faktor yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap pembelajaran. Mata pelajaran ini akan menjadi sangat menarik jika guru mampu “membawakannya” dengan baik. Namun jika seorang guru tidak dapat menguasai dan mengajarkan materi dengan baik, maka mata pelajaran SAINS pun tentunya akan menjadi sangat membosankan.
Berdasarkan teori J. Piaget, usia siswa SD yang berkisar antara 6-12 tahun masih termasuk dalam tahap Operasional Konkret di mana siswa membutuhkan benda konkret (nyata) dan kontekstual dalam proses pembelajaran. Walaupun membutuhkan biaya lebih untuk melengkapi fasilitas dan mempersiapkan guru SAINS yang ideal, dengan memperbaiki manajemen pembelajaran SAINS di sekolah, paradigma pembelajaran SAINS yang dianggap paling sulit diantara mata pelajaran yang lainnya akan berubah. Dengan demikian proses belajar mengajar akan menjadi lebih menarik dan menyenangkan sehingga para siswa dapat memahami materi yang diajaran oleh guru dengan baik pula.